Senin, 09 September 2019

Fanatisme Suporter Indonesia di Piala Dunia

Membayangkan Fanatisme Suporter Indonesia di Piala Dunia


Pertandingan akbar Liga 1 antara Persija Jakarta vs Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Karno menjadi aroma baru dalam kancah sepak bola Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang membayangkan betapa heroiknya suporter kita ketika timnas tampil di Piala Dunia di masa depan.

Memang bukan cerita baru jika Indonesia memiliki fanatisme luar biasa di sepak bola. Salah satu media kenamaan asal Inggris, Copa 90 bahkan sempat membuat liputan khusus terkait fanatisme luar biasa yang ditunjukkan suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud.

Sedangkan beberapa bulan lalu, media asal Australia, ABC, membuat liputan khusus untuk melihat bagaimana totalitas pendukung Persija Jakarta, Jakmania, dalam mendukung tim kesayangannya. David Lipson, selaku reporter yang melakukan peliputan langsung juga turut larut dalam euforia.

Melihat dari dua kelompok suporter ini saja kita sudah dibuat bangga dengan dukungan-dukungan tiada henti mereka di tribun. Baik kalah atau menang, teriakan dukungan tidak pernah berhenti keluar dari mulut suporter yang hadir di stadion.

Yang lebih hebat dari suporter berbasis klub di Indonesia, mereka tidak pernah kekurangan semangat saat tim nasional yang bertanding. Hal ini tentu agak berbeda dengan beberapa fan di Eropa yang lebih militan dalam mendukung klubnya ketimbang negara.

Suporter di Indonesia bisa dikatakan lebih dari yang dilakukan suporter di Eropa. Mereka tidak pernah kekurangan antusiasme maupun loyalitas ketika harus mendukung Tim Garuda bertanding. Hal ini pun sudah teruji ketika pecinta sepak bola tanah air tidak tetap memberikan dukungan 100 persen untuk tim kelompok umur.

Hasil gambar untuk koreo ultras garuda
Ya, loyalitasi suporter Indonesia tidak hanya berlaku untuk tim senior saja, melainkan juga untuk tim juniornya seperti U-23, U-19, bahkan U-16. Melihat fanatisme luar biasa ini, tentu timnas tidak kekurangan modal dalam hal dukungan dari tribun.
Bukan tidak mungkin pula jika pada nantinya timnas Indonesia tampil di Piala Dunia, kita bisa menghadirkan sesuatu yang berbeda yang tak pernah dihadirkan para kontestan lain selama ini.
Gambar terkait
Lagi pula, jika di tingkat klub ada Jakmania, Viking, Bonek Mania, Aremania, atau pun suporter dari klub lain, timnas Indonesia juga mempunyai dua basis pendukung yang besar dalam diri La Grande Indonesia dan Ultras Garuda.
Lebih menarik lagi bahwa dua basis tersebut berisikan suporter yang berasal dari fanbase klub di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, apa pun warna yang mereka bela di tingkat klub, mereka secara otomatis kembali menjadi merah-putih untuk mendukung tanah air tercinta, apalagi di pentas Piala Dunia. Semoga saja.

Prestasi Wakil Indonesia di Liga Champions Asia

Prestasi Wakil Indonesia di Liga Champions Asia

Gambar terkait

Liga Champions Asia adalah kompetisi paling bergengsi di Asia, setara Liga Champions di Eropa. Hanya tim-tim terbaik Asia yang mampu bermain di ajang ini
Sejak berganti format menjadi Liga Champions Asia musim 2002/2003, berikut tim-tim Indonesia yang pernah tampil di ajang ini:
Tahun 2003: –
Petrokimia Putra dan Persita Tangerang gagal lolos kualifikasi LCA
Tahun 2004: Persik Kediri dan PSM Makassar
Persik & PSM hanya sampai babak penyisihan grup, masing-masing menempati urutan ke-3 dan ke-4
Tahun 2005: Persebaya Surabaya dan PSM Makassar
Kedua tim hanya sampai babak penyisihan grup, mereka sama-sama menempati urutan ke-3
Tahun 2006: –
PSSI telat mendaftarkan Persipura dan Arema
Tahun 2007: Persik Kediri dan Arema Malang
Kedua tim hanya sampai babak penyisihan mereka sama-sama menempati urutan ke-3
Tahun 2008: –
Liga Indonesia terlambat selesai
Tahun 2009: Sriwijaya FC
Sriwijaya FC hanya sampai babak penyisihan dengan menempati juru kunci, sedangkan PSMS Medan gagal masuk ke LCA karena kalah di babak playoff
Tahun 2010: Persipura Jayapura
Persipura Jayapura hanya sampai babak penyisihan dengan menjadi juru kunci, sedangkan Sriwijaya FC gagal masuk ke LCA karena kalah di babak play off
Tahun 2011: Arema Indonesia
Arema Indonesia hanya sampai babak penyisihan dengan menempati juru kunci grup
Tahun 2012: –
Persipura gagal lolos kualifikasi LCA
Tahun 2013: –
Semen Padang gagal lolos kualifikasi LCA
Tahun 2014: –
Persipura gagal lolos kualifikasi LCA
Tahun 2015: –
Persib Bandung gagal lolos kualifikasi LCA, lalu PSSI disanksi FIFA

Perlukah Naturalisasi

Jangan Sia-siakan Naturalisasi untuk Timnas Indonesia

Usia sejumlah para pesepakbola naturalisasi yang tak lagi muda jadi fakta menggelitik atas proses pemain naturalisasi belakangan ini.

Terlebih melihat kenyataan lebih dari 20 pesepakbola ekspatriat banyak yang berujung sia-sia jika muaranya demi kepentingan Timnas Indonesia.Terdapat setidaknya ada delapan pemain yang dikabarkan tengah menjalani proses untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Namun, sebagian besar usianya sudah tak lagi muda.Sebut saja Otavio Dutra, Yoo Jae Hoon, dan Fabiano Beltrame yang sudah 36 tahun. Shohei Matsunaga dan Silvio Escobar sudah 30 dan 33 tahun.Bahkan, pemain Sriwijaya FC eks Persib Bandung Hilton Moreira sudah memasuki 38 tahun dan baru menjalani naturalisasi.
Hanya Marc Klok, gelandang PSM Makassar, yang saat ini masih 26 tahun menjalani proses naturalisasi.
Tambah menggelitik lagi fakta bahwa Dutra yang kini bermain di Persebaya Surabaya pernah satu lapangan dengan sejumlah legenda Brasil yang kini sudah pensiun. Mereka adalah Kaka dan Ronaldinho.
"Ketika saya masih pemain dari Corinthians, saya main lawan Kaka. Dia di Klub Sao Paulo," kata Dutra kepada CNNIndonesia.com.
"Ronaldinho dari klub Gremio dan lain-lain, karena umur kita semua hampir sama. Jadi kami main di liga Brasil."
Ketika dua pemain itu sudah gantung sepatu, Dutra masih tercatat sebagai pesepakbola profesional di Persebaya. Kini malah mantan bek Bhayangkara FC itu tengah menjalani naturalisasi.
Sudah puluhan nama pemain yang pernah berstatus asing kini menyandang WNI. Di antara nama-nama tersebut bahkan ada yang tak pernah bermain untuk Timnas Indonesia. 
Sebut saja Guy Junior, Herman Dzumafo, Silvio Escobar, Osas Saha, Zoubairou Garba, Paulo Benson, OK John Kughegbe, Bruno Casimir, Mahamadou El Haji, dan Ruben Wuarbanaran, belum pernah merasakan main di skuat Garuda meski sudah berpaspor WNI.
Beberapa nama pernah memperkuat Merah Putih, namun hanya sebentar. Sebut saja ada nama Victor Igbonefo, Jhon van Beukering, Tonnie Cusell, dan Serginho van Dijk, dan Kim Jeffrey Kurniawan.
Sementara nama-nama macam Christian Gonzales, Beto Goncalves dan Stefano Lilipaly, lumayan memiliki jam terbang di skuat Garuda.
Satu kesamaan fakta pesepakbola naturalisasi. Mereka menjadi WNI dalam usia yang relatif gaek sehingga sulit mendapat tempat di Timnas Indonesia.
Padahal, semangat awal naturalisasi sejatinya demi mendatangkan manfaat di Timnas Indonesia. Kenyataannya, PSSI ibarat mendapatkan alat-alat perang dari luar negeri, namun sudah termakan usia.
Terlebih, baru diketahui ramai-ramai pemain asing ini banyak disponsori oleh klub-klub utamanya di Liga 1. Kegigihan klub melakukan naturalisasi demi keuntungan mereka sendiri.
"Untuk prestasi jangka pendek, banyak yang ngakalin [lewat naturalisasi]. Kalau kami [Bali United] berpikirnya jangka panjang. Sekarang sudah ada sekolah elite akademi dan itu bagian dari proses pembinaan jangka panjang kami," kata Pemilik Bali United Pieter Tanuri kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/7).
Dengan memuluskan naturalisasi, klub-klub tersebut bisa menambah lagi kekuatan di luar kuota jumlah pemain asing empat plus satu penggawa Asia. Dengan demikian, gengsi mereka terjaga di kompetisi kasta tertinggi.
Secara undang-undang memang warga negara asing bisa mendapatkan hak menjadi WNI jika sudah bertempat tinggal paling singkat lima tahun berturut-turut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut-turut berdasarkan UU Nomor 12 tahun 2006. Selain itu, ada sejumlah pengecualian proses naturalisasi bagi mereka yang belum memenuhi syarat itu yakni jika berjasa untuk Indonesia. Memperkuat Merah Putih pun ditafsirkan sebagai upaya untuk berjasa di Indonesia. Celah ini pula yang tampaknya dimanfaatkan sejumlah pelaku sepak bola nasional untuk kepentingan mereka sendiri.
Bagaimana PSSI selaku induk sepak bola tanah air melalui operator kompetisi profesional memecahkan masalah ini?
Operator sebenarnya bisa sedikit berinovasi dalam regulasi mereka. Aturan mengenai status pemain asing atau lokal di kompetisi domestik Tanah Air misalnya.

PSSI bisa membuat regulasi mengubah pemain asing tersebut memiliki semacam lisensi berstatus setara pemain lokal misalnya. 
Penyetaraan itu pun sebatas status mereka di kompetisi, meski masih berstatus WNA. Perubahan status itu bisa melalui syarat jika pemain itu sudah bermain selama lima sampai 10 tahun di kompetisi domestik Indonesia misalkan.
Meski berstatus setara pemain lokal, tak lantas hak mereka sama dengan WNI. Pajak maupun administrasi yang harus mereka tunaikan tetap sebagai WNA.
Dengan demikian, klub-klub tak perlu ramai-ramai mendorong naturalisasi pemain asing yang pada akhirnya tak memberikan faedah di Timnas Indonesia.

Persoalannya yang bisa muncul memang jika sang pemain harus membela klubnya pada laga-laga level Asia seperti Liga Champions Asia atau Piala AFC. Para pemain ekspatriat yang secara regulasi kompetisi domestik sudah disetarakan pemain lokal, tak serta merta berstatus pemain lokal dalam arti hasil naturalisasi. 
Alhasil, beberapa dari mereka bakal tak bisa dimainkan jika klub yang bersangkutan itu memiliki jumlah pemain berstatus WNA melebihi jumlah kuota maksimal. Meski demikian, klub tentu sudah harus punya perencanaan matang mereka-mereka yang harus didaftarkan sebagai pemain asing di kompetisi level Asia tersebut.

Kiprah Pemain Sepak Bola Indonesia Di Eropa

Kiprah Pemain Bola Indonesia Di Eropa
Egy Maulana Vikri baru saja mengembangkan sayap karirnya di Eropa dengan bergabung bersama klub Polandia, Lechia Gdansk. Pesepakbola asal Medan itu mengikuti jejak karir sejumlah pesepakbola Indonesia yang pernah dan hingga saat ini masih bermain di sana.
Berdasarkan penelusuran Tempo, terdapat setidaknya 15 pemain Indonesia yang pernah dan masih bermain di Eropa hingga saat ini. Berikut daftarnya:
1. Kurniawan Dwi Yulianto
Hasil gambar untuk kurniawan dwi
Kurniawan Dwi Yulianto merupakan pemain Indonesia pertama yang bermain di Eropa. Awalnya dia menimba ilmu di klub Italia, Sampdoria, dalam program PSSI Primavera. Si Kurus, julukan Kurniawan awalnya bermain di ajang Serie C2 dalam program yang dibiayai PSSI itu. Pasca berakhirnya program tersebut, dia lantas mendapat tawaran dari Sampdoria.
Naas, dia tak mampu menembus skuad Sampdoria dan malah dipinjamkan ke klub Swiss, FC Luzern. Di klub itu lah dia pertama kali merasakan atmosfir sepak bola Eropa sebagai pesepakbola profesional. Dia sempat bermain dalam 10 laga sebelum akhirnya kembali ke Sampdoria. Setelah karirnya mandek di Eropa, Kurniawan pun memutuskan pulang kampung pada 1996 dan bermain untuk Pelita Jaya.
2. Kurnia Sandy
Hasil gambar untuk kurnia sandy
Memiliki nasib yang sama dengan Kurniawan, Kurnia Sandy juga mendapatkan kontrak dari Sampdoria pasca berakhirnya program PSSI Primavera. Namun Kurnia Sandy tak pernah sekali pun bermain di kompetisi resmi sebelum akhirnya dia kembali ke tanah air dan memperkuat Pelita Jaya.
3. Bima Sakti
Hasil gambar untuk bima sakti timnas
Jebolan PSSI Primavera ini juga sempat melanglang buana di Eropa. Namun bedanya dia mendapatkan tawaran dari klub Swedia, Helsinborg IF pada musim 1995-1996. Sayangnya karier Bima Sakti hanya bertahan semusim sebelum akhirnya pulang dan memperkuat Pelita Jaya.
4. Arthur Irawan
Hasil gambar untuk arthur irawan
Nama Arthur Irawan sempat membuat kaget publik sepak bola tanah air pada 2011. Pasalnya saat itu dia mendapatkan kontrak resmi dari klub Spanyol, Espanyol B. Sempat mencatatkan delapan penampilan bersama Espanyol B, pada musim 2013/14 Arthur hengkang ke klub Spanyol lain, Malaga B.
Di Malaga B, nasib pemain kelahiran Surabaya itu juga tak berubah dan harus hengkang ke Belgia semusim setelahnya. Sayangnya, di Belgia pun Arthur hanya bermain satu kali kala timnya, Waasland-Beveren, kalah atas KV Mechelen. Kini dia telah kembali ke Indonesia namun karier sepak bolanya meredup karena cedera,
5.Syamsir Alam
Hasil gambar untuk syamsir alam
Nama Syamsir Alam sempat menjadi harapan bagi pecinta sepak bola Indonesia. Pria kelahiran Sumatera Barat itu tampil menawan di level junior sehingga masuk program pembinaan PSSI ke Uruguay pada 2008 bersama 24 pemain U-16 lainnya. Di Uruguay, Syamsir sempat mendapatkan sorotan karena dianggap mampu tampil apik. Alhasil pada 2011 dia mendapatkan tawaran dari klub divisi dua Belgia, CS Vise.
Di klub itu Syamsir tak banyak mendapatkan kesempatan. Dua musim di CS Vise, dia tercatat hanya bermain sebanyak 10 kali dan tak mencetak satu gol pun. Sempat dikabarkan akan bergabung bersama klub Liga Amerika, DC United, Syamsir akhirnya terdampar di Sriwijaya FC pada musim 2013-2014, namun lagi-lagi dia kalah bersaing. Musim lalu bahkan dia tak tercatat membela satu tim pun di kompetisi Liga 1.
6. Alfin Tuasalamony.
Hasil gambar untuk alfintuasalamony
Sama seperti Syamsir, Alfin Tuasalamony merupakan produk lain dari program pembinaan PSSI di Uruguay. Namun Alfin baru bergabung pada tahun kedua atau pada 2009.
Selesai berguru di Uruguay, Alfin juga mendapatkan kesempatan bermain di Eropa bersama CS Vise. Namun nasib Alfin tak jauh berbeda dari para seniornya. Bermain selama 2 musim di Belgia, dia pun akhirnya kembali ke Indonesia untuk bermain bersama Persebaya Surabaya. Saat ini dia memperkuat Sriwijaya FC yang akan mengarungi ajang Liga 1 2018.
7. Manahati Letusen
Hasil gambar untuk manahati lestusen
Manahati Letusen merupakan pemain ketiga Indonesia yang bermain untuk CS Vise. Bek kelahiran Pulau Buru ini juga merupakan jebolan program SAD di Uruguay. Hanya saja dia sempat menjalani satu tahun tambahan di Uruguay bersama Penarol FC.
Sama seperti dua rekannya, Manahati tak banyak berkembang di CS Vise. Bahkan dia tercatat hanya bermain sebanyak 2 kali di klub itu pada musim 2013-2014. Sepulangnya dari Belgia, Manahati sempat bermain untuk Persebaya Surabaya, PS Barito Putera dan kini membela PS Tira atau yang musim lalu disebut PS Tira.
8.Irfan Bachdim
Hasil gambar untuk irfan bachdim belanda
Tak seperti para pemain sepakbola Indonesia lainnya, Irfan Haarys Bachdim, memang lahir dan besar di Eropa. Hal itu tak lepas dari ibunya yang merupakan orang asli Belanda. Di Belanda Irfan Bachdim sempat memperkuat sejumlah klub. Mulai dari FC Utrecht, HFC Haarleem hingga SV Argon.
9. Kim Jeffrey Kurniawan
Hasil gambar untuk kim kurniawan FC Heidelsheim
Sama seperti Bachdim, Kim merupakan pesepakbola Indonesia yang memiliki darah Eropa. Sang ibu merupakan warga negara Jerman sementara ayahnya merupkan orang Indonesia. lahir di Jerman membuat Kim juga sempat merasakan atmosfir sepak bola Eropa. Dia pernah bermain untuk klub FC 07 Heidelsheim sebanyak 26 kali dan menciptakan 2 gol pada 2009-2011.
10. Stefano Lillipaly
Hasil gambar untuk stefano lilipaly belanda
Pemilik nama panjang Stefano Yantje Lillipaly juga merupakan pesepakbola blasteran Indonesia. Lahir di Belanda, Lillipaly juga merasakan pendidikan sepak bola di benua biru. Sepanjang karirnya, Lillipaly sempat bermain di empat klub Belanda - FC Utrecht, Almere City dan Telstar. Dia bergabung bersama Bali Untied pada tahun lalu hingga saat ini.
11. Dallen Ramadhan Rovani Doke
Hasil gambar untuk dallen doke
Nama Dallen Ramahdan mendadak menjadi pembicaraan setelah dia bergabung bersama klub divisi empat Spanyol, CS Castellon pada September dua tahun lalu. Dia merupakan pemain muda binaan Persipasi Bandung Raya yang kemudian berangkat ke Eropa berkat bantuan program pengembangan pemain dari Jakarta Football Academy.
Mendapatkan kontrak di CS Castellon, Dallen sempat dipinjamkan dua klub lainnya, Alcudia dan Torre Levante. Dallen sempat mendapatkan kontrak dari Bali United pada musim lalu sebelum akhirnya bergabung kembali ke klub Liga Spanyol C.F Racing D'Algemesi-Mecaveni musim ini.
12. Mahir Radja Satya
Hasil gambar untuk mahir radja satya
Sama seperti Dallen, Mahir juga mendapatkan kontrak dari CS Castellon pada 2016 lalu berkat bantuan dari Jakarta Football Academy. Namun karir eks pemain Timnas Indonesia U-19 itu bak ditelan bumi. Mahir tak pernah terdengar bermain untuk klubnya tersebut atau pun bagaimana karirnya saat ini.
13. Yussa Nugraha
Hasil gambar untuk yussa nugraha
Yussa Nugraha telah mengembangkan sayapnya di sepak bola Eropa sejak 2015 lalu. Pesepakbola asal Solo tersebut bergabung bersama salah satu akademi sepak bola terbaik di negeri kincir angin, Feyenoord C1.
Pada musim 2015-16, Yussa sukses menunjukkan penampilan gemilang bersama Feyenoord C1 di salah satu kompetisi junior di Belanda. Dia tercatat sebagai top-skorer di klubnya karena sepanjang musim dirinya sukses mencetak 18 gol dan 13 assist dari 33 pertandingan di seluruh ajang.
14. Ezra Walian
Gambar terkait
Berdarah Manado-Belanda membuat Ezra sempat memiliki dua kewarganegaraan di level junior. Namun Ezra memutuskan untuk menjadi pemain Indonesia pada Agustus 2017 lalu. Karir junior Ezra bermula di klub kecil HFC Haarlem. Dia lantas pindah ke akademi salah satu klub besar AZ Alkmaar sebelum akhirnya menembus akademi kelas dunia milik Ajax Amsterdam, Jong Ajax.
Ezra sempat bermain bersama anak dari penyerang Belanda Patrick Kluivert, Justin Kluivert. Namun di level senior dia sempat kesulitan mencari klub. Sempat dikabarkan akan bergabung bersama klub Liga Inggris, West Ham, Ezra akhirnya bergabung bersama Almere City FC. Hingga saat ini Ezra telah bermain sebanyak 15 kali dan mencetak 4 gol untuk Almere City FC. Ezra pun telah bermain di timnas Indonesia pada ajang SEA Games 2017 lalu.
15. Nicholas Pambudi
Hasil gambar untuk nicholas pambudi
Nama Nicholas Pambudi sempat muncul ke permukaan saat mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-19 dua tahun lalu. Namun sayangnya Nicholas tak mampu menarik perhatian Pelatih Indra Sjafri yang saat itu masih menangani skuad Garuda Muda.
Dua tahun berselang Nicholas Pambudi membuat heboh. Dia disebut bergabung bersama salah satu klub divisi dua asal Yunani, Aris Thessaloniki FC. Sebelum ke Liga Yunani, Nicho pernah menimba ilmu di Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten pada tahun 2011-12.
Dia juga sempat bermain untuk SSB Jakarta Football Academy Halim pada 2012.
Tak hanya itu, Nicho juga sempat mengenyam pelatihan sepakbola di REFA Spanyol pada 2013-2014, sebelum akhirnya bergabung dengan Marcet Fundacion di Barcelona pada 2014 hingga saat ini.
Jika melihat panjangnya daftar di atas, maka Egy Maulana Vikri seharusnya bisa berprestasi lebih baik dari pendahulunya. Skill olah bola yang lebih mumpuni plus usia yang masih sangat muda bisa membuat dirinya mencuri perhatian klub-klub besar. Kuncinya adalah dia bisa terus bekerja keras.